Sabtu, 02 April 2011

Cara menggunakan Slash


ketika nama anda memasukan input yang menggunakan quarte ( ' ) atau tanda kutip maka akan ditampilkan dengan tanda backslash ( / ).

tentu saja hal yang kita inginkan keluaran atau hasilnya tidak sama sehingga membuat kita jengkel atau kesel. seperti contoh de'dy tetapi setelah terjadi proses hasilnya seperti de\'dy sehingga membuat kita jengkel.

nah ini ada cara memperbaiki keadaan tersebut dengan menggunakan stripslashes(), ini untuk membantu mengembalikan data yang asli dan yang kita inginkan

ini adalah kodenya :

<?
echo "<form action='$PHP_SELF'method='POST'>
Masukkan nama anda ...<br>
<input type='text'name='nama'size=30><br><br>
<input type='submit'name='submit'value='PROSES'>
</form>";

if ($submit) {
if (empty($nama)) {
echo "Anda harus mengisikan nama..!!";
} else {

$escape=stripslashes($nama);
echo "Data Asli : $nama";
echo "<br>";
echo "Hasil :$escape";
}
}
?>

jika anda ingin menambahkan sesuatu yang menarik dengan menggunakan PHP, untuk tidak enggan mengirim dan membagi ilmunya kepada semua khususnya kepada saya. amat sangat berartinya dan berharganya, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.

Code for restart/shut down PC


tambahkan 5 command buttons
lalu ganti nama command buttons tersebut sesuai dengan yang tertera: 'cmdRestart; cmdLogOff; cmdForceLogOff; cmdShutdown; cmdForceShutdown

Option Explicit
Private Const EWX_LogOff As Long = 0
Private Const EWX_SHUTDOWN As Long = 1
Private Const EWX_REBOOT As Long = 2
Private Const EWX_FORCE As Long = 4
Private Const EWX_POWEROFF As Long = 8


Private Declare Function ExitWindowsEx Lib "user32" _
(ByVal dwOptions As Long, _
ByVal dwReserved As Long) As Long

Private Type LUID
UsedPart As Long
IgnoredForNowHigh32BitPart As Long
End Type

Private Type LUID_AND_ATTRIBUTES
TheLuid As LUID
Attributes As Long
End Type
Private Type TOKEN_PRIVILEGES
PrivilegeCount As Long
TheLuid As LUID
Attributes As Long
End Type

Private Declare Function GetCurrentProcess Lib "kernel32" () As Long

Private Declare Function OpenProcessToken Lib "advapi32" _
(ByVal ProcessHandle As Long, _
ByVal DesiredAccess As Long, _
TokenHandle As Long) As Long


Private Declare Function LookupPrivilegeValue Lib "advapi32" _
Alias "LookupPrivilegeValueA" _
(ByVal lpSystemName As String, _
ByVal lpName As String, _
lpLuid As LUID) As Long

Private Declare Function AdjustTokenPrivileges Lib "advapi32" _
(ByVal TokenHandle As Long, _
ByVal DisableAllPrivileges As Long, _
NewState As TOKEN_PRIVILEGES, _
ByVal BufferLength As Long, _
PreviousState As TOKEN_PRIVILEGES, _
ReturnLength As Long) As Long

Private Declare Sub SetLastError Lib "kernel32" _
(ByVal dwErrCode As Long)

Private Sub AdjustToken()

Const TOKEN_ADJUST_PRIVILEGES = &H20
Const TOKEN_QUERY = &H8
Const SE_PRIVILEGE_ENABLED = &H2

Dim hdlProcessHandle As Long
Dim hdlTokenHandle As Long
Dim tmpLuid As LUID
Dim tkp As TOKEN_PRIVILEGES
Dim tkpNewButIgnored As TOKEN_PRIVILEGES
Dim lBufferNeeded As Long

SetLastError 0

hdlProcessHandle = GetCurrentProcess()

OpenProcessToken hdlProcessHandle, _
(TOKEN_ADJUST_PRIVILEGES Or TOKEN_QUERY), hdlTokenHandle

LookupPrivilegeValue "", "SeShutdownPrivilege", tmpLuid

tkp.PrivilegeCount = 1
tkp.TheLuid = tmpLuid
tkp.Attributes = SE_PRIVILEGE_ENABLED


AdjustTokenPrivileges hdlTokenHandle, _
False, _
tkp, _
Len(tkpNewButIgnored), _
tkpNewButIgnored, _
lBufferNeeded
End Sub

Private Sub cmdForceShutdown_Click()
AdjustToken
ExitWindowsEx (EWX_SHUTDOWN Or EWX_FORCE), &HFFFF
End Sub

Private Sub cmdLogoff_Click()
ExitWindowsEx (EWX_LogOff), &HFFFF
End Sub

Private Sub cmdForceLogoff_Click()
ExitWindowsEx (EWX_LogOff Or EWX_FORCE), &HFFFF
End Sub

Private Sub cmdRestart_Click()
AdjustToken
ExitWindowsEx (EWX_REBOOT), &HFFFF
End Sub

Private Sub cmdShutdown_Click()
AdjustToken
ExitWindowsEx (EWX_SHUTDOWN), &HFFFF
End Sub

Private Sub Form_Load()

End Sub]

catatan: belum dicoba,,semoga berhasil...

good luck..!!

Dayyuts


Istilah "suami takut istri" bukan hanya ada di televisi. Saat ini banyak kita jumpai seorang suami yang bertekuk lutut di bawah ketiak istri. Alih-alih mengarahkan dan membimbing istrinya, malahan dia selalu di bawah instruksi dan arahannya. Akibatnya dia tak berani melarang ketika istrinya bermaksiat. Misalnya, dia membiarkan istrinya bergaul bebas dengan teman lakinya, membiarkannya nongkrong di pinggir jalan bersama laki-laki lain, membiarkannya keluar rumah tanpa berjilbab, dan bentuk pelanggaran syari’at lainnya.

Sungguh tak layak suami berperilaku dan bermental seperti ini. Karena Allah telah menetapkannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, pemimpin atas anak dan istrinya, dan kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Dari Ibnu Umar radliyallah 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ،

"Setiap kalian ra'in (penanggung jawab) dan masing-masing akan ditanya tentang tanggungjawabnya. Penguasa adalah penanggung jawab atas rakyatnya, dan akan ditanya tentangnya. Suami menjadi penanggung jawab dalam keluarganya, dan akan ditanya tentangnya." (Muttafaq 'Alaih)

Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. Ia dituntut untuk berlaku adil dan menunaikan perkara yang dapat memberi maslahat bagi apa yang diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140)

Dalam sebuah hadits marfu', dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ : اَلْعَاقُ لِوَالِدَيْهِ ، وَالدَّيُّوْثُ ، وَرَجْلَةُ النِّسَاءِ

Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat nanti, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts . . . “ (HR. an-Nasa’i dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani).

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau ayah yang membiarkan kemaksiatan terjadi dalam keluarganya. Yaitu ketika dia melihat kemungkaran oleh anggota keluarganya, dia hanya diam saja dan tidak merubahnya.

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau ayah yang membiarkan kemaksiatan terjadi dalam keluarganya.

Yaitu ketika dia melihat kemungkaran oleh anggota keluarganya, dia hanya diam saja dan tidak merubahnya.

Lawannya adalah al-ghayyur, yaitu orang yang memiliki kecemburuan besar terhadap keluarganya sehingga dia tidak membiarkan mereka berbuat maksiat.

Ancaman keras dalam hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar yang dimurkai Allah. Salah satu ciri dosa besar adalah apabila perbuatan tersebut diancam akan mendapatkan balasan di akhirat berupa siksaan, kemurkaan, atau ancaman keras lainnya.

Imam Ad-Dzahabi dalam kitabnya, Al Kabair (kumpulan dosa-dosa besar) menempatkan perilaku diyatsah/ dayyuts dalam urutan dosa besar ketiga puluh empat.

Imam Ad-Dzahabi dalam kitabnya, Al Kabair (kumpulan dosa-dosa besar) menempatkan perilaku diyatsah/ dayyuts dalam urutan dosa besar ketiga puluh empat.

Beliau mengatakan dalam bab liwath, "jika dia mengetahui istrinya telah berselingkuh (berzina) dan dia hanya diam saja (membiarkannya), maka Allah telah haramkan surga atasnya karena Allah telah menulis di pintu surga: 'Kamu haram dimasuki seorang dayyuts'. Yaitu orang yang mengetahui perbuatan buruk (zina) pada istrinya, tapi dia diam saja dan tidak cemburu."

Seorang suami yang dayyuts akan menyebabkan rusaknya agama dan akhlak anggota keluarga, sehingga layaklah suami dayyuts ini mendapatkan ancaman keras sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk perbuatan maksiat di antaranya perbuatan ad-diyatsah/ad-dayyuts (membiarkan perbuatan buruk dalam keluarga) yang timbul karena lemah atau hilangnya sifat ghiirah (cemburu dan marah ketika syariat Allah dilanggar) dalam hati pelakunya. Beliau berkata, “. . . . oleh karena itulah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan masuk surga. Demikian juga orang yang membolehkan dan menganggap baik perbuatan dzalim dan melampaui batas bagi orang lain. Maka perhatikanlah akibat yang ditimbulkan karena lemahnya sifat ghiirah (dalam diri seseorang)."

. . . . oleh karena itulah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan masuk surga.

Beliau melanjutkan, "ini semua menunjukkan bahwa asal pokok agama seseorang adalah sifat ghiirah. Barangsiapa yang tidak memiliki sifat ghiirah maka berarti dia tidak memiliki agama (iman). Karena sifat ghiirah inilah yang akan menghidupkan hati (manusia) yang kemudian akan menghidupkan anggota tubuhnya, sehingga anggota tubuhnya akan menolak perbuatan buruk dan keji. Sebaliknya, hilangnya sifat ghiirah akan mematikan hatinya, yang kemudian akan mematikan kebaikan anggota tubuhnya, sehingga sama sekali tak ada penolakan terhadap keburukan dalam dirinya. . . “ (kitab Ad-Da-u wad Dawaa’, hal. 84).

Sifat ghiirah di dalam hati ibarat anti bodi bagi tubuh yang berfungsi melawan penyakit dan memperkuat tubuh. Jika anti bodi ini hilang maka badan akan hancur.

Ad-Dayuts akan membiarkan keburukan pada agama istri dan anak-anaknya. Yaitu dengan membiarkan atau menuruti kemauan mereka dalam perkara yang bertentangan dengan syari’at. Ini berarti menjerumuskan mereka ke dalam jurang kehancuran.

Seorang istri, bagaimanapun baik sifat asalnya, tetap saja dia seorang perempuan yang lemah dan susah untuk diluruskan. Maka seseorang yang keadaannya sedemikian ini tentu sangat membutuhkan bimbingan dan pengarahan dari seorang laki-laki yang memiliki akal, kekuatan, kesabaran, dan kasih sayang. Karena itu, jangan pernah bosan menasihati istrimu.

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka . . .” (QS. At-Tahrim: 6)

Wahai para suami, janganlah kalian menjadi ad-Dayyuts!!. (PurWD/voa-islam.com).

Al Wala` Wal Bara

'' Pandangan ulama ahlusunnah tentang perdebatan ''

Perdebatan yang Tercela
Kaidah kedua dalam beramal dengan sunnahadalah ditampakkannya sunnah tersebut dan jangan diperdebatkan. Yang dimaksud dengan diperdebatkan di siniadalah debat yang mewarisi kebencian dan dendam. Kebanyakan perdebatan dalam masalah ilmu (agama) itu mengantarkan kepada permusuhan, (semata-mata) berbantahan, riya`, kedengkian, dendam danberprasangka buruk kepada ' ulama , mencelanya dan menuduhnya dengan kebathilan dan akibat jelek lainnya dari perkara-perkara yang diharamkan. Dan tidakragu lagi, bahwa debat ini adalah siksaan (balasan jelek) dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Karena alasan inilah, Rasulullah memperingatkan dari berdebat apabila tidakdengan cara yang lebih baik, sebagaimana beliau telah bersabda:
"Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah mendapatkan petunjuk yang mereka dulu berada di atasnya, kecuali setelah didatangkan jidal ( perdebatan ) kepada mereka." (HR. Ahmad 5/252, 256, At-Tirmidziy no.3250 dan dia berkata: hasan shahih dan Ibnu Majah no.48 dari Abu Umamah)
Banyak sekali ungkapan para imam dalam memperingatkan manusia dari perdebatan dan penjelasan tentang kerusakannya. Hingga Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan: " Perdebatan dalam masalah agama akan menumbuhkan sifat riya`, menghilangkan cahaya ilmu dari hati dan mengeraskannya serta mewariskan dendam." (Siyar A'laamin Nubalaa` 8/106 dan semisalnya dari Asy-Syafi'iy sebagaimana dalam As-Siyar 10/28)
Berkata sebagian ' ulama Salaf: "Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba maka akan dibukakan baginya pintu amal dan akan ditutup darinya pintu perdebatan , dan (sebaliknya) apabila Allah menghendaki kejelekan terhadap seorang hamba, maka akan ditutup darinya pintu amal dan akan dibukakan untuknya pintu perdebatan ." (Fadhlu 'Ilmis Salaf 'alal Khalaf hal. 86, Ibnu Rajab Al-Hambaliy)
Al-Hasan Al-Bashriy mendengar suatu kaum saling berdebat, maka beliau berkata:"Mereka ini adalah suatu kaum yang sudah bosan akan ibadah dan telah menjadi ringan atas mereka perkataan dan telah sedikit wara' mereka lalu mereka pun berkata (sukaberdebat -pent.)." (Ibid hal.89)
Berkata Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambaliy:"Sungguh telah terfitnah kebanyakan dari kalangan orang-orang belakangan dengan permasalahan ini ( perdebatan ), lalu mereka menyangka bahwa orang yang banyak pembicaraannya, perdebatannya dan perselisihannya dalam masalah-masalah agama maka dia adalah orang yang lebih tahu daripada orang yang keadaannya tidak demikian, dan ini (sebenarnya) adalah kebodohan yang murni � maka bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat dan bukan pula dengan banyaknya ucapan, akan tetapi (ilmu itu adalah) cahaya yang dimasukkan ke dalam hati, yang seorang hamba akan memahami kebenaran dengan ilmu tersebut dan dia akan bisa membedakan dengan ilmu tersebut antara Al-Haq (kebenaran) dengan kebathilan." (Ibid hal.93-94)
Berkata Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurriy setelah memperingatkan dari perbantahan dalam masalah ilmu dan banyak berdebat padanya:"Maka apabila ada orang yang berkata: lalu apa yang akan bisa diperbuat pada ilmu yang telah menjadi samar atasnya?" Dikatakan untuknya: "Apabila keadaannya demikian dan dia menginginkan kemantapan dalam ilmu yang masih samar atasnya (hendaklah dia) menyengaja mendatangi seorang 'alim dari golongan orang-orang yang mengetahui (dan katakankepadanya) bahwasanya dia menginginkan dengan ilmunya tersebut (ridha) Allah ... laludia mempelajarinya sebagaimana orang yang mencari faidah mempelajarinya dan beritahukan kepadanya bahwasanya perdebatanku kepadamu adalah perdebatannya orang yang mencari kebenaran, bukan perdebatannya orang yang ingin pertengkaran, perselisihan dan mencari kemenangan, kemudian ikatlah dirinya dengan sifat keadilan untuknya dalam perdebatannya itu." (Akhlaaqul 'Ulamaa` hal.41)
Al-Imam Ibnul Jauziy telah memperingatkan dari talbiis (tipu daya/makar/pengkaburannya) Iblis terhadap ' ulama dan para penuntut 'ilmu dalam masalah-masalah perdebatan , lalu beliau berkata:"Sesungguhnya salah seorang di antara mereka telah jelas baginya bahwa kebenaran itu berada pada lawan bicaranya dan dia tidak ruju' (kembali kepada Al-Haq) dan dadanya menjadi sempit (dengan mengatakan) bagaimana tampak kebenaran itu bersama lawan bicaranya dan kadang-kadang ia bersungguh-sungguh dalam membantahnya bersamaan pengetahuannyabahwasanya (lawannya itu) benar, maka ini adalah dari sejelek-jeleknya kejelekan, karena sesungguhnya perdebatan itu digunakan untuk menerangkan kebenaran, dan sungguh berkata Al-Imam Asy-Syafi'i:"Tidaklah aku mendebat seorangpun, lalu dia mengingkari hujjah kecuali telah terputus dari kedua mataku (artinya aku tinggalkan dia -pent.) dan tidaklah dia menerimanya kecuali karena ketajamannya."(Talbiisu Ibliis hal. 120) [Lihat Aadaabu Thaalibil 'Ilm hal.58-60]
Maka kewajiban bagi seorang yang mencari hidayah (petunjuk) untuk menjelaskan sunnah kepada manusia dan menegakkan hujjah-hujjah atasnya, serta menggunakan di jalan tersebut cara-cara yang memuaskan,walaupun tidak diterima darinya (yang penting sunnah tersebut sudah diterangkan dan dijelaskan kepada manusia-pent.). Tidakada kewajiban bagi seorang rasul, kecuali menyampaikan dengan jelas.
Al-Imam Ahmad berkata: "Kabarkan sunnah dan jangan saling berbantahan di atasnya." (Thabaqaat Al-Hanaabilah, Ibnu Abi Ya'la 1/236)
Al-Haitsam bin Jamil berkata: "Aku berkata kepada Malik bin Anas: "Wahai Aba 'Abdillah, seseorang yang berilmu (mengerti) tentang sunnah, bolehkah didebat?" Ia berkata:"Tidak. Akan tetapi hendaknya ia diberitahu tentang sunnah, jika diterima darinya (itulah yang diharapkan -pent.) dan jika tidak, diam saja." (Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlih 2/94)
Semua ini adalah perdebatan yang tercela, yang akan tumbuh darinya sekian kerusakansampai musnah kemaslahatan dari sisinya.
Perdebatan yang Terpuji
Adapun beradu pendapat (argumen) dengancara yang baik, yaitu dengan tujuan mencari kebenaran dan tidak terkandung maksud yang akan mengeluarkannya dari tujuan tersebut, maka sangatlah baik hal itu, (yakni) diterangkannya kebenaran, pengarahan kepada jalan yang lurus serta bimbingan kepada tempat-tempat yang benar. (Al-Faqiih wal Mutafaqqih hal.222)
Maka ketika terjadi adu pendapat, berhati-hatilah agar tidak menjadi sebab perpecahan, pertentangan dan permusuhan antara sesama saudara sesama muslim. Dan sedikit sekali suatu perdebatan yang bisa lepas dari akibat yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah kesehatan dan keselamatan.
Berkata Al-Imam Asy-Syafi'i: "Tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja kecuali aku menyukai kalau dia menunjuki aku, meluruskanku dan membantuku dan hal itu merupakan perhatian dan penjagaan dari Allah atasnya dan tidaklah aku berbicarakepada seorangpun begitu saja kecuali saya tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran melalui lisanku atau lisannya." (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 2/26 dari AadaabuThaalibil 'Ilm hal.60)
Berkata Yunus Ash-Shafadiy: "Tidak pernah saya melihat seorang yang lebih berakal dariAsy-Syafi'iy. Suatu hari saya mendebatnya dalam suatu masalah, kemudian kami berpisah. Lalu ia menemuiku dan memegangtanganku kemudian berkata: "Wahai Abu Musa, tidakkah salah kita menjadi saudara, walaupun kita tidak sepakat dalam satu masalah?"
Adz-Dzahabiy berkata dalam mengomentari kejadian tersebut: "Saya berkata: Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal dan kefaqihan imam ini, yang mana para ahli debat itu (biasanya) senantiasa berselisih." (Siyar A'laamin Nubalaa` 10/16-17)
Ibnu 'Abdil Barr mengeluarkan (riwayat): Dari Al-'Abbas bin 'Abdil 'Azhim Al-'Anbariy, ia berkata: "Pernah aku berada di tempat Al-Imam Ahmad bin Hambal, lalu datang 'Ali ibnul Madiniy kepadanya dengan mengendarai tunggangannya." Dia (Al-'Anbariy) berkata: "Keduanya saling berdebat tentang asy-syahaadah (persaksian). Meninggi suara keduanya, sehingga aku khawatir akan terjadi kekerasan di antara mereka berdua. Al-Imam Ahmad berpendapat, bahwa asy-syahaadah itu ada, sedangkan 'Ali Ibnul Madiniy menolak dan menentangnya. Maka ketika Ibnul Madiniy hendak pergi, Al-Imam Ahmad bangkit lalu memegang kendaraannya (Ibnul Madiniy)." (Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlih 2/107)
Berkata Syaikhul Islam: "Demikianlah para ' ulama dari kalangan shahabat, tabi'in dan orang setelah mereka, jika sedang bertentangan dalam suatu masalah, mereka mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta'ala: "Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya)." (An-Nisaa`:59)
Mereka berdebat dalam suatu masalah secara musyawarah dan saling menasehati yang mungkin saja terjadi perselisihan pendapat dalam suatu masalah 'ilmiyyah atau 'amaliyyah, namun mereka tetap menjaga kerukunan, kehormatan dan persaudaraan dalam agama.
Tidak Boleh Menyelisihi Dalil yang Jelas
Memang benar, barangsiapa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah serta Ijma' As-Salafush Shalih dengan bentuk penyelisihan yang tidak diberi 'udzur di dalamnya, maka diperlakukan baginya sebagaimana ahli bid'ah. (Majmu' Fatawa 24/172)
Yaitu bagi orang yang sudah jelas baginya dalil baik dari Al-Qur`an, As-Sunnah ataupun Ijma'nya ' ulama ahlus sunnah namun ia menolaknya dikarenakan fanatik atau taqlid (membebek) terhadap madzhabnya atau pendapat gurunya, maka orang ini tidak dimaafkan, tidak boleh dihormati sedikitpunpendapatnya tersebut bahkan kita gabungkan dia dengan kelompok ahlul bid'ah.
Tidak Boleh Fanatik terhadap Madzhab
Dan Syaikhul Islam mencela orang-orang yang fanatik terhadap sunnah ijtihadiyyah yang mereka pegangi dan memusuhi orang yang menyelisihi mereka dalam masalah tersebut. Beliau mengatakan: "Adapun fanatik terhadap permasalahan tersebut dansemisalnya merupakan syi'ar perpecahan dan perselisihan yang kita telah dilarang darinya. Dan orang yang menyeru untuk itu, berarti dia lebih mengunggulkan syi'ar perpecahan di tengah-tengah ummat. Jika tidak, maka masalah-masalah ini termasuk masalah khilaf yang paling ringan, andai syaithan tidak menyeru kepadanya untuk menampakkan syi'ar-syi'ar perpecahan tersebut." (Majmu' Fatawa 22/405)
Artinya dalam permasalahan ijtihad fiqhiy yaitu perkara yang tidak nampak padanya sebuah dalil disertai dengan salah satu dari dua perkataan, bahkan kedua ucapan ini memungkinkan (untuk diambil -pent). Yang demikian ini tidak diingkari dalam perkara-perkara ijtihad, selama belum ada sesuatu yang merajihkan, tidak boleh mengingkari orang yang mengambil salah satu dari pendapat yang ada, dengan syarat tidak terdapat padanya sifat ta'ashshub (fanatik) atau hawa nafsu, tapi semata-mata tujuannya adalah kebenaran. (Syarh Masaa`ilAl-Jaahiliyyah, Al-Fauzan hal.46). Wallaahu A'lamu bish Shawaab.
Maraji': Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah; Aadaabu Thaalibil 'Ilmi dan Syarh Masaa`il Al-Jaahiliyyah.
Hukum Orang yang Berbuat Syirik
Pertanyaan:
Apa hukum orang yang beribadah kepada selain Allah dalam keadaan dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin dan Al-Qur`an telah sampai kepadanya, maka apakah orang ini muslim yang bercampur dengan kesyirikan ataukah dia itu musyrik?
Jawaban:
Orang ini adalah musyrik, karena sesungguhnya dia tidak ma'dzur (dimaafkan) apabila dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin karena firman Allah Ta'ala: "Dan telah diwahyukan Al-Qur`an ini kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang telah sampai Al-Qur`an (kepadanya)" (Al-An'am:19). Maka barangsiapa yang telah sampai kepadanya Al-Qur`an maka sungguh telah tegak hujjah atasnya, dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (Al-Isra`:15)
Maka barangsiapa yang telah sampai kepadanya Al-Qur`an dan juga dakwah (Islam) telah sampai kepadanya dan dia berbuat syirik dalam keadaan dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin maka sesungguhnya dia adalah musyrik. Dan berkata sebagian Ahlul 'Ilmi: Sesungguhnya orang ini apabila tersembunyi atasnya terhadap apa yang terjadi padanya dari kesyirikan dengan sebab para da'i kesesatan dan kesyirikan dan dengan sebab banyaknyapara penyesat di sekitarnya dan tersembunyi atasnya perkara tersebut maka sesungguhnya dia dalam keadaan (seperti) ini, perkaranya diserahkan kepada Allah maka hukumnya adalah (sebagaimana) hukum ahlul fatrah (orang-orang yang belum sampai kepadanya rasul ataupun dakwah Islam) apabila dia tidak mengetahui(perkara tersebut). Akan tetapi apabila dia meninggal (sebelum dia bertaubat dari kesyirikannya) maka dia diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan kaum musyrikin maka dia tidak boleh dimandikan, tidak boleh dishalati dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin.
Maka maksud (dari penjelasan di atas) adalah bahwasanya hukum asal (orang ini) adalah sesungguhnya dia tidak dimaafkan, akan tetapi seandainya didapati sebagian manusia tersembunyi atasnya (perkara kesyirikan tersebut) dengan sebab da'i-da'i kesyirikan dan kesesatan dan dia tidak mengetahui (perkara tersebut) maka kadang-kadang dikatakan: "dia ma'dzur (dimaafkan) pada keadaan ini dan perkaranya diserahkan kepada Allah Ta'ala, dan bagaimanapun juga wajib atasnya untuk mencari Al-Haq dan mengetahuinya serta berusaha untuk mendapatkannya sebagaimana dia mampu untuk berusaha dalam mencari ma'isyah (penghidupan)nya dan bertanya tentang jalan-jalan mencari usaha, maka wajib atasnya untuk bertanya tentang agamanya dan bertanya tentang perkara yang masih samar atasnya, sedangkan keadaannya tidak mendengar Al-Haq dan tidak menerima Al-Haq dan pura-pura tuli dari mendengar Al-Haq maka orang ini tidak ma'dzur, inilah hukum asal (permasalahan tersebut). Wallaahu A'lamu bish Shawaab.
(Diambil dari kitab As`ilah wa Ajwibah 'anil iimaan wal Kufr)

ADAKAH YANG SALAH DALAM WUDHU KITA?

Sebagaimana telah diketahui bahwa Allah Subhana Wa Ta’ala mewajibkan shalat lima waktu kepada kita. Di antara kita ada yang baik dalam menunaikannya dan ada pula yang buruk. Oleh sebab itu, wajib bagi setiap muslim untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikannya semaksimal mungkin, supaya sempurna amalannya, dan penuh pahalanya.

Salah satu sebab berkurangnya pahala shalat adalah apa yang terjadi pada sebagian orang yang shalat berupa perkara-perkara yang menyelisihi shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, padahal beliau telah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari)

Demikian juga apa yang terjadi dari sebagian mereka berupa kesalahan dan kekurangan dalam wudhu, dan tidak membaguskannya, padahal Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Barang siapa yang berwudhu seperti apa yang diperintahkan, diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR.Ahmad dan an-Nasa’i).

Oleh karena itu pentingnya setiap muslim memperhatikan kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan dalam thaharah (bersuci), menjauhinya dan menasehati orang-orang yang terjerumus ke dalamnya supaya meninggalkannya dan agar kita semua meraih pahalanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.”

Rabu, 18 Februari 2009

Renung

Pernah sekali gue membayangkan gimana rasanya punya mimpi yang bisa menjadi kenyataan???? karena gue pengen banget impian ini bisa tercapai.
tapi memang butuh pengorbanan dan niat,dengan niat kita punya keyakinan,dan pengorbanan adalah jalan hidup yang berliku-liku panjang.
pikir gue "apa bisa mimpi menjadi kenyataan?"
dengan perasaan penasaran gue tetap optimis karena suatu saat harus menjadi kenyataan,kata bathin gue tidak untuk berkata tidak,tapi berkata iya tuk terus mencapai mimpi gue yang harus diabadikan hingga akhir hayat masih dikandung badan.

dulu gue pengen banget orang tua pergi haji,karena itulah mimpi yang selama ini terus ada dipikiran gue dan itu adalah cita-cita yang gue harapkan.
karena gue gak pernah bercita-cita atau memimpikan menjadi orang sukses atau terkenal.
pikiran gue selalu tertuju pada dua manusia yang telah memperjuangkan seluruh jiwa dan raga untuk anaknya,dibenak gue hanya bagaimana bisa membahagiakan keduanya walau diri gue ini hanyalah manusia yang terhina dimata dunia tapi gue akan berusaha tidak terhina dimata Allah SWT dan menjadi hamba sebaik-baiknya.
hanya merenung dan berpikir bagaimana bisa memberangkatkan haji tuk keduanya sedangkan gue belum dapat kerja???

walau ibu gue sudah berangkat haji tapi tetap keinginan gue tuk memberangkatkan salah satunya,yaitu bapak gue.

"Ya Allah jika kau mendengar dan merasakan perasaan hambaMu.
berilah kebaikan pada kedua orang tuaku.
jadikan doa dan ibadahku selimut mereka di alam kubur.
jadikanlah aku perisai mereka saat di akhirat nanti
jika Kau menghukum mereka gantilah dengan diriku.
biar...biarlah aku yang menanggung.
aku sadar dan aku tahu neraka itu lebih panas.
lebih panas dari api didunia
dan aku juga menyadari bahwa aku juga punya dosa
aku pun pasti juga terhukum
tapi jangan Engkau biarkan mereka orang tuaku terhukum
biarlah aku yang menanggung semua kesalahan mereka..".


gue dah berusaha sana-sini lewat media koran, internet
tapi hasilnya hanya dipanggil tuk interview dan test
tak kurang 2 tahun gue kerja sambilan dengan menjaga warnet
tapi itu pun belum seberapa gajinya tuk membahagiakan mereka

hari demi hari berlalu, dimana bapak gue sakit dan harus dirawat dirumah sakit
dengan biaya yang tidak sedikit,dimana gue sedang diuji kesabaran.
pusying dan bingung harus cari duit dimana?sedang gaji gue belum ada.
gue hanya bisa bersedih dan merenung,kenapa bapak gue sakit saat gue belum dapat kerja?kata hati gue.
memang kita tidak bisa lepas dari sakit apalagi kematian.
karena gue gak mau terbawa kesedihan yang mendalam,gue basuh muka tuk berwudhu dan melanjutkan dengan shalat,supaya hati gue tenang dan berharap memohon agar diberi ketabahan atas musibah yang menimpa gue.selesai shalat gak henti-hentinya gue berdoa.

Tapi yang namanya takdir semua sudah ditentukan lain walau kita berharap diberi kesembuhan dan sehat kembali.

Hari ke hari gue lalui tanpa aluan yang pasti, karena bapak gue berangsur-angsur kesehatannya semakin memburuk,semakin sedih gue karena cita-cita tuk memberangkatkan kedua orang tua pergi haji yang selama ini gue tanam dihati tidak menjadi kenyataan.

hancur sudah harapan gue,apa yang selama ini gue dambakan sirna sudah dengan kesedihan ini,gue sedih karena cita-cita gue ini terbawa dengan selimut putih yang menutupi jenazah bapak gue,hari itu bener-bener sedih banget sampe mengeluarkan air mata.

tapi gue tetap tegar agar suatu saat gue bisa membuat yang terbaik tuk mereka.
gua gak akan menyia-nyiakan nafas dan jiwa gue selama didunia ini tuk mereka.

Sabtu, 02 Agustus 2008

Hampa

wahai jiwa yang mengarungi raga
ku tak bisa sempurna tanpamu
engkau anugerah dari Tuhanku
tanpamu ku tak berdaya

Tuhan yang memiliki jiwa
bantu aku menyebut namaMu
jangan biarkan ku tersiksa
ku hanya ingin bersamaMu

Ku sadari hidup ini indah
dengan ayat-ayat qur'an yang bertakbir
mengagungkan nama besarMu Ya Rabb
ijinkan aku menggapai ridhaMu

Hampa hatiku jauh dariMu
gelap dan sunyi menghantui
ingin rasanya ku berlari
mengejar cahyaMu Ya Rabb

Hidup dan matiku ditanganMu
mengikat perjanjian dengan rohku
kasih dan sayangMu menyejukkan hati
ku tak tahu berkata-kata indah

Ya Rabb ku malu diri ini
lemah malas terhina dan bodoh
malu dengan keagunganMu
yang selalu mengawasi disetiap waktu

Terasa hampa sekali kuberjalan
mengarungi kesunyian hidup
tanpa cahaya Rabb...