Sabtu, 02 Agustus 2008
Hampa
ku tak bisa sempurna tanpamu
engkau anugerah dari Tuhanku
tanpamu ku tak berdaya
Tuhan yang memiliki jiwa
bantu aku menyebut namaMu
jangan biarkan ku tersiksa
ku hanya ingin bersamaMu
Ku sadari hidup ini indah
dengan ayat-ayat qur'an yang bertakbir
mengagungkan nama besarMu Ya Rabb
ijinkan aku menggapai ridhaMu
Hampa hatiku jauh dariMu
gelap dan sunyi menghantui
ingin rasanya ku berlari
mengejar cahyaMu Ya Rabb
Hidup dan matiku ditanganMu
mengikat perjanjian dengan rohku
kasih dan sayangMu menyejukkan hati
ku tak tahu berkata-kata indah
Ya Rabb ku malu diri ini
lemah malas terhina dan bodoh
malu dengan keagunganMu
yang selalu mengawasi disetiap waktu
Terasa hampa sekali kuberjalan
mengarungi kesunyian hidup
tanpa cahaya Rabb...
Senin, 28 Juli 2008
Jalanku tak Panjang
mengingatkanku pada masa lalu
masa lalu yang suram menjemukkan
karena tidak ada cinta dan kasih sayang
tuk ku bertahan hidup
ku merenung meratap sebuah bulan
begitu indah menutup bola mataku
kau disana bahagia ditemani bintang
menyinari dunia tanpa kesombongan
kau tidak terhina dan ternoda
kusadari semua yang terjadi pada diriku
bahwa hidup didunia pasti berlalu
karena hidup dan jalanku tak panjang
menyusuri gemerlapnya dunia
Sabtu, 26 Juli 2008
Kelambu Hatiku Berkata
Tanpa ada rasa senang dan suka cita
Hidup dan dunia ini menyiksa batinku
Mengurung dan memuakkan tubuh kurusku
Bangkitlah jiwa dan ragaku
Lawanlah sekuat tenaga dan pikiranmu
Tuntaskanlah masalah dengan hati nuranimu
Berjuang dengan ketidak putus asaanmu
Berucap belum tentu bertindak
Bertindak tentu sama dengan berucap
Hati dan pikiran bersatulah
Musnahkan kebodohan dunia ini
Wahai jiwa yang mengarungi raga
Kuatkanlah hati dan pikiranku
Wahai jiwa yang mengikat hatiku
Berilah cinta dan kasih sayangmu
Jeritan tangis menyesakkan kalbu
Tak peduli kau siapa diriku
Karena dunia tak mengenal kasih
Begitulah hidup yang kujalani
Jumat, 25 Juli 2008
Semua itu Takdir
Pagi hari yang cerah membuat ku terperanjak bangun dari tempat tidur, ku buka jendela dan sinar mentari pagi menyambut diriku yang belum mandi. Dengan sedikit malas karena badan masih lemas, kuberusaha menggapai handuk yang berada di pintu kamar tidurku.
Jam menunjuk pukul delapan pagi, bergegas aku kekamar mandi dan mandi. Ku pakai baju kemudian mengeluarkan motor, bergegasku kerumah orang tuaku tanpa ada pikiran dan perasaan apa-apa, tiba-tiba setelah sampai kakakku menceritakan sesuatu kejadian dimana bapakku masuk rumah sakit.
Yang tadinya hatiku senang mendadak berubah drastis menjadi kesedihan, ku hanya merenung dan sedih mendengar semua ini, bagai mimpi yang menjadi kenyataan, aku bingung melamun apa yang sedang terjadi, karena selama ini dalam keluargaku semuanya pada baik-baik saja tiba-tiba berubah menjadi kesedihan.
Hatiku sedih dan pikiranku kosong seakan tak percaya dengan takdir yang diberikan Sang Khalik, kutegar dan kukuatkan hatiku dengan beristighfar semua yang ada dipikiranku kucoba untuk kualihkan dengan berdoa kepada Rabb-Nya semesta alam agar aku diberikan hidayah dan kekuatan supaya hati ini tegar dan sabar.
Ku terus berdzikir dan berdoa sambil mengendarai motor tak kuasa kumenahan pedih hati ini dan terasa pula air mata menetes membasahi pipi, sambil menahan rasa sedih karena ku mengendarai motor agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Alhamdulillah aku selamat sampai rumah sakit dimana bapakku dibawa dengan tegar ku berjalan dengan terus menyebut nama Allah agar semua yang terjadi padaku menjadikan aku menjadi hamba yang sabar.
Tak kubayangkan dan tak kuduga, bapak yang dulu sehat dan kuat sekarang terbaring lemah tak berdaya ditempat tidur, hatiku masih tak percaya bahwa semua yang terjadi pada bapakku itu adalah benar-benar terjadi dan hatiku masih saja tidak mau mengikhlaskan semua itu terjadi. kucoba tuk terus beristighfar dan membimbing bapakku yang koma, sedih dan menyesal diri ini karena aku begitu egois dan membangkang waktu bapakku memerintahkan diriku walau hanya sepele semasa sehatnya bapakku sekarang yang ada hanyalah penyesalan dan kebodohan yang kubawa mati dalam diriku.
Kulihat wajah yang dulu bagiku galak berangsur-angsur punah dengan keceriaan, seperti tidak ada lagi beban yang ditanggungnya, dan kulihat bibirnya yang dulu kulihat sering mengomeli diriku kini berubah dengan tersenyum seakan-akan menyambut malaikat dengan salam dan ikhlas untuk membawanya pergi ketempat dimana para tabiin-tabiin terdahulu ditempatkan yaitu surganya Allah SWT.
Jam menunjukkan pukul sebelas siang dimana inilah akhirku melihat seorang bapak yang membesarkan, mendidik dan menasehatiku dengan kata-kata bijak yang selalu terngiang sampai sekarang didalam pikiranku.
Rasa penyesalan pasti ada dan selalu belakangan, kutak tahu harus berbuat apa dan bagaimana lagi untuk membuat orang tuaku senang dan bahagia karena bapakku sudah tidak lagi ada disisiku walau perasaanku masih merasakan rasa kasih sayangnya.
Ku berdoa dan ku yakin bahwa ini adalah takdir yang harus kuterima, karena tidak ada yang abadi kecuali Allah SWT. semoga ini menjadikan aku menjadi lebih sabar dan taat beribadah.
Bapak kau adalah perisai bagi keluargamu, bekerja membanting tulang tuk sesuap nasi tanpa lelah menghampiri dirimu, kau hiraukan udara dingin dan panas matahari menyentuh kulit tubuhmu, besar perjuangan yang telah kau berikan terhadapku, kata-kata bijak yang kau ucapkan menjadi tuntunan bagi diriku, semoga apa yang membuat kau kesal kepadaku berubah menjadi doa sepanjang hidupku menjagamu dialam kubur dan membawamu ke surga yang diidam-idamkan umat muslim. Amien.
Ya Allah kau penguasa langit dan bumi, ijinkan aku memohon, meminta untuk menjadikan aku hamba yang selalu tunduk kepadaMu, bersujud dan mendekatkan diri setiap waktu. Ya Allah kau yang membangkitkan dan mematikan semua makhluk, kabulkanlah permohonan hambaMu yang hina dan bodoh serta lemah dihadapanMu, ampunilah dosaku, dosa ibu-bapakku, dosa saudara-saudaraku baik yang dekat maupun saudara sesama muslim, tempatkanlah mereka kedalam surgaMu karena mereka telah berjuang bersemangat dan berbakti serta tunduk kepadaMu, Jadikanlah mereka semua umat-umat Nabi Muhammad yang Islam cintai. Ya Allah Kau adalah pelindung bagi umat Nabi Muhammad, maafkan ucapanku dan terimalah doaku. Amien.
Senin, 17 Maret 2008
Semua Akan Kembali
Banyak sekali kemewahan, kemegahan, keindahan didalam dunia yang kita tempati ini.
sungguh indah nan rupawan jika kita melihat pemandangan alam yang Allah SWT ciptakan, sehingga kita terlupa akan siapa dan dari mana kita tercipta?
Melihat semua kemewahan yang tiada berhenti, membuat kita terus berpacu mengejar mimpi yang tak pasti jelas untuk bisa mendapatkannya?
kemegahan dunia yang begitu luar biasa kita memandangnya, membuat kita bernafsu untuk memburunya.
Sadarkah kita semua bahwa dunia yang megah, indah, dan mewah akan sirna begitu saja mengikuti waktu akan datangnya ajal.
Sungguh tak ku sangka dan tak ku duga ternyata apa-apa yang dekat denganku hilang tuk selama-lamaya, bagai mimpi tapi nyata yang tak kupercaya bahwa semua apa yang di alami orang lain pasti akan ku alami sendiri, apa yang dirasakan oleh orang lain pasti akan kurasakan sendiri.
Sedih, terharu hatiku begitu mendengar kabar dari kakakku bahwa tidak ada keabadian dan kesempurnaan didunia ini yang kekal dan semuanya akan musnah kecuali Allah SWT.
Hatiku runtuh remuk walau tegar dengan keimananku, bahwa yang bernyawa pasti mengalami mati, itulah yang terlintas dalam pikiranku.
Pernah aku membaca bahwa orang yang meninggal itu tidak mati selamanya melainkan hanya berganti tempat ketempat yang baru.
Cita-cita yang begitu aku muliakan dan agungkan sirna tanpa bekas terkubur dengan jasad yang begitu mulia untuk seorang ayah yang begitu bertanggung jawab terhadap keluarganya dan juga saudara-saudaranya, aku sedih bukan karena ditinggal seorang ayah melainkan aku sedih karena cita-cita yang begitu aku utamakan tak kesampaian, sungguh diluar daya pikirku cita-cita satu-satunya yang kuharapkan ternyata tidak terkabul dan hilang dengan terkuburnya seorang ayah.
Dengan cita-cita yang aku agungkan mungkin bisa membalas budi baik dari seorang ayah walau takkan bisa aku melunasinya, walau sedikit untuk membahagiakannya tapi itu sangat berharga dan berartinya untukku, karena tidak ada lagi yang bisa kuberbalas budi untuknya melainkan cita-citaku itu. mungkin dengan doa-doa yang ku panjatkan setiap habis shalat atau pun ku terbangun malam untuk shalat tahajjud tetapi itu tidak bisa hatiku tuk puas diri.
Semua itu kusadari bahwa apa yang telah Allah kehendaki apapun yang ada dibumi maupun yang ada dilangit untuk diambil-Nya tidak bisa kita cegah, karena semua itu milik Allah SWT.
Kini diriku hanya bisa berdoa untuk ayahku di alam sana agar doa yang kupanjatkan diterima oleh Allah supaya ayahku dimasukkan kedalam surga-Nya dan di jadikan umat nabi terakhir umat Islam yaitu Nabi Besar Muhammad SAW nanti.Amin. Ya Rabb ampunilah dosa kedua orangtuaku jadikanlah dia sebagai hamba yang selalu sujud dan tunduk kepada-Mu dan jadikanlah dia sebagai umat Nabi-Mu,jauhkanlah dia dari api neraka,dan berilah dia tempat yang layak disurga-Mu.Amin.
Senin, 04 Februari 2008
JANGAN DURHAKAI ORANG TUA
Sebagai seorang anak dilarang mengucapkan kata-kata “ah”. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam surat Al-Isra’ : 23.
Artinya : “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.
Islam sangat membenci perbuatan atau sikap durhaka kepada orang tua, sehingga Allah SWT mengancam kepada anak yang durhaka kepada orang tua dengan siksaan yang sangat memilukan.
Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf : 18.
Artinya : “Mereka itulah orang-orang yang tidak pasti ketetapan (adzab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi”.
Adapun contoh dari seorang anak yang durhaka kepada orang tua adalah putra Nabi Nuh as yang bernama Kan’an. Sewaktu banjit bah telah mulai dating dan bahtera berlayar membawa mereka menembus gelombang yang bagaikan gunung. Nabi Nuh as mengajak anaknya seraya berkata : “ Wahai anakku, naiklah ke atas kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.
Kan’an berpikir bahwa kapal buatan ayahnya tidak mungkin bisa menyelamatkan dari amukan gelombang yang sangat besar. Maka dia menjawab ayahnya : “Akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memelihara (menyelamatkan) aku dari bah”.
Mendengar ucapan Kan’an, Nabi Nuh as sekali lagi mengingatkan kepada anaknya : “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah saja, Yang Maha Penyayang”.
Kan’an pun tetap pada pendiriannya, ia tetap mengikuti alur logikanya dan gelombang besar pun menjadi pemisah antara ayah dan dengan anaknya, dan Kan’an pun termasuk golongan orang yang ditenggelamkan oleh Allah SWT. Lantaran tidak beriman, durhaka kepada orang tuanya.
Sabtu, 02 Februari 2008
SORGA NERAKA ADA PADA ORANG TUA
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik." (QS al-Isra` [17]: 23)
Begitu santunnya Islam mengajarkan penghormatan kepada orang tua.
Bukan saja dari raut muka, bahkan perkataan "ah!" saja sudah terlarang. Apalagi menghardik dan bersikap keras atau kasar. Bahkan kita dilarang untuk memaki ibu bapak orang lain, sebab setiap kali kita memaki-maki orang tua orang lain, maka bisa jadi akan mengundang orang itu untuk memaki orang tua kita. Dan itu adalah kezaliman bagi orang tua. Harusnya kata-kata yang mulia saja yang keluar dari lisan kita.
Kalau saja kita mau secara jujur merenungi jasa dan pengorbanan orang tua, terlebih ibu kita, niscaya akan kita temui betapa tidak ternilainya kasih sayang mereka. Bayangkan! Sewaktu di perut ibu, sembilan bulan kita menghisap darahnya. Saat itu, ibu sulit berdiri dan berjalan pun berat, bahkan berbaringpun sakit. Tiga bulan pertama mual dan muntah karena ada kita di perutnya. Ketika kita akan terlahir ke dunia, ibu meregang nyawa antara hidup dan mati. Meskipun bersimbah darah dan sakit tiada terperi, tapi ibu tetap rela dengan kehadiran kita. Setelah lahir, satu persatu jari kita dihitungnya dan dibelainya. Di tengah rasa sakit, beliau tiba-tiba tersenyum dengan lelehan air mata bahagia melihat kita terlahir. Dan saat itu pula ibu menyangka akan lahir anak yang saleh yang memuliakannya.
Coba kita renungkan kembali! Pada waktu kita masih bayi, tidak kenal siang dan malam kita berbaring dan bangun sesuka hati. Padahal ibu kita hampir tidak tidur semalam suntuk. Rasanya, beliau tidak rela bila ada satu ekor nyamuk pun yang mengigit tubuh kita. Ketika kita mulai kecil mulai nakal, ibu bahagia memamerkan diri kita kepada tetangga-tetangganya.
Walaupun untuk itu beliau begitu direpotkan, berutang sana sini agar kita punya sepatu dan berpakaian layak. Ketika menjelang sekolah, ibu dan ayah sungguh-sungguh membanting tulang mencari nafkah, agar kita bisa sekolah seperti anak-anak yang lain. Walaupun mereka harus menahan lapar, namun puas asal anak-anaknya bisa kenyang.
Dalam kenyataannya, seiring pertumbuhan kita, tidak sebaik itu bakti kita kepada mereka. Semakin lama kita semakin besar, mata jadi sering sinis kepada orang tua. Jangankan mencium tangan ibunda, untuk sebuah senyum pun kita terkadang berat untuk melakukannya. Bahkan ucapan dan tindakan kita seakan seperti pisau yang sering mengiris hatinya. Lebih dari itu, sering seorang anak begitu mudah menyuruh-nyuruh orang tuanya. Tak ubahnya seperti pesuruh yang dihormati sekadarnya. Padahal tenaga, keringat, dan darah mereka habis untuk membela kita.
Lebih parah lagi, ada sebagian anak yang tidak mau memuliakan orang tuanya. Manakala orang tua semakin jompo dan si anak tidak mau mengurusnya, maka dititipkan orang tuanya di panti jompo, astagfirullah. Ini adalah perbuatan yang sangat tercela. Padahal dulu kita sangat menyusahkannya. Harusnya semua itu diingat-ingat.
Maka tak heran jika ada anak yang durhaka, anak yang tidak tahu balas budi, hidupnya di dunia ini akan diliputi penderitaan. Kita sering mendengar, betapa hukuman-hukuman Allah langsung diberikan pada anak-anak yang sering menzalimi orang tuanya. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk selalu mengenang kembali semua untaian pengorbanan orang tua.
Beruntunglah bagi siapapun yang orang tuanya masih ada, karena jika orang tua sudah terbungkus kain kafan, kita tidak bisa lagi mencium tangannya atau menatap wajahnya. Karena itu kita harus memiliki tekad yang sangat kuat untuk berbakti pada orang tua. Minimal kita berhenti menyakiti hati orang tua hingga tidak ada luka yang ditoreh di hatinya. Syukur kalau kita sudah bisa menyenangkannya dan diberkahi manfaat besar bagi dunia dan juga akhiratnya.
Dalam hal ini, yang paling penting dalam menghormati mereka bukan hanya dengan memberi harta. Namun yang paling dibutuhkan adalah akhlak dari anaknya. Apalah artinya anak kaya, anak bergelar, anak berpangkat, tetapi tidak berakhlak kepada ibu bapaknya? Dan akhlak inilah sebenarnya kekayaan termahal yang bisa membuat sang anak doanya diijabah oleh Allah Azza wa Jalla, sehingga bisa menyelamatkan serta memuliakan ibu bapaknya.
Betapa yang dirindukan orang tua itu senyum manis yang tulus dari anaknya serta ketawadhuan. Wallahu a`lam. dr/mns/mqp
(KH. Abdullah Gymnastiar)